Minggu, 16 Juni 2013

Arti Kehidupan

Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.

Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga
panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata.

Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor.

Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir.

Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: "Sayangku, apa yang kaulihat?"

"Wortel, telur, dan kopi," jawab anaknya.

Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya.

Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras.
Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya "Apa artinya, bapa?"

Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak
dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.

"Yang mana engkau, anakku?" sang ayah bertanya.

"Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?"

Bagaimana dengan ANDA, sobat?

Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?

Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.

Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?


Sumber: unknown

Selasa, 21 Mei 2013

Kisah Seorang Polisi Yang Menilang Sahabat Karibnya

Semoga cerita ini dapat memberikan pencerahan kepada kita semua tentang arti hidup dan menghargai orang lain.
———————————————-

Dari kejauhan, lampu lal...u-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang. Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala.Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit...!!!

Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.

Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu.
Hati Jono agak lega.
Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, juga Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang, nih? Maaf, Saya memang agak buru-buru.
Sebab, Istri saya sedang menunggu di rumah.”

“Oh ya?”

Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.

“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”

“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”

Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.

“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.”

Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.

“Ayo lah Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”

Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa.Dibukanya kaca jendela itu sedikit.

Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.

“Kepada temanku Jono, Tahukah kamu Jon, Dulu aku mempunyai seorang anak perempuan. Sayangnya, ia sudah meninggal karena tertabrak pengemudi yang mengebut dengan menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak lagi agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya hal itu kami lakukan. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. (Salam, Bobi)”.
Setelah membaca,
Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraannya dan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya bisa dimaafkan…….
________________
Sahabat,
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita sendiri. Hidup ini sangat berharga, Untuk itu jalanilah segala sesuatunya dengan penuh hati-hati.@dari fb temen

Rabu, 15 Mei 2013

Ibu Jualan Lontong, Anak S-2 di Jerman

Tak pernah terpikir di benak Watiyah (60) alias Mak Wati bisa melihat putri bungsunya, Riska Panca Widowati (23) menempuh pendidikan S-2 di luar negeri. Pada 2011 lalu, Riska mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan master ke Universitas Konstanz, di Kota Konstanz, Jerman. Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di jurusan Sastra Jerman, Universitas Negeri Jakarta, angkatan 2007.

Salah satu yang membuat Mak Wati "serasa bermimpi" adalah kondisi keluarganya yang hanya golongan ekonomi menengah ke bawah. Suaminya, Wagimin, hanya seorang buruh bangunan, sementara Mak Wati berjualan makanan keliling di Gedung DPR, Jakarta. Mak Wati dan Wagimin memiliki lima orang anak.

Mak Wati lantas berkisah, ketika awal mula ia mendapatkan kabar gembira dari putrinya. Awalnya, ia melarang Riska untuk berangkat ke Jerman. Mak Wati khawatir dengan kehidupan yang akan dijalani Riska di negeri orang. Namun, setelah mendapatkan masukan dari banyak orang dan melihat kemauan keras putrinya, Mak Wati pun memberi restu.

"Saya mah enggak tahu beasiswanya dari mana. Anak saya enggak ngajuin, tapi ditawarin kuliah di Konstanz, tinggalnya di asrama," kata Mak Wati, saat dijumpai Kompas.com, di lantai 18, Gedung Nusantara I, DPR, Rabu (8/5/2013) pagi

"Skype"-an

Setelah Riska berangkat ke Jerman, Mak Wati, yang tinggal di Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ini pun menjadi melek teknologi. Jarak jauh membuatnya menjadi akrab dengan internet, demi mengobati rindu melihat putrinya. Salah satu andalannya adalah menggunakan Skype. Menurutnya, jika sudah "Skype"-an dengan Riska, ia menjadi lupa waktu. Berjam-jam ia habiskan di depan layar komputer untuk ngobrol dengan putrinya.

"Dia (Riska) yang nelepon, kadang malah sambil makan. Sekarang dia gemukan, tambah putih, tambah cantik. Dia sudah ke mana-mana katanya, fotonya banyak, ke Berlin juga sudah," ujar Mak Wati sambil tersenyum.

Bila tak ada halangan, pada September 2013 nanti Riska akan menyelesaikan studinya dan kembali ke Indonesia. Mak Wati mengaku tak memiliki rencana khusus untuk menyambut putrinya. Ia hanya berharap Riska kelak bisa berhasil dan bisa mengangkat derajat keluarganya.

Terkenal di DPR

Nama Mak Wati begitu dikenal di Gedung DPR. Khususnya di kalangan asisten dan staf ahli angggota DPR, PNS kesekretariatan, sampai petugas Pamdal, dan office boy. Sejak tahun 1984, wanita yang memiliki 10 orang cucu ini mulai menjajakan dagangannya.

Saat ini, ia biasa berjualan di Gedung Nusantara I, di sekitar lantai 3 hingga lantai 22. Selain lebih murah, makanan yang dijual Mak Wati juga memiliki rasa yang enak. Ada lontong sayur, bihun goreng, dan aneka gorengan serta camilan. Makanan yang dijual mulai dari Rp 500 sampai Rp 7.000. Tak heran bila dagangannya cepat habis. Biasanya, ia pulang ke rumah sebelum sore dengan membawa hasil berjualan sebesar Rp 100.000 - Rp 150.000.

Kompas.com
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary

Kamis, 18 April 2013

MENERIMA TANPA SYARAT

Mungkin terlalu sering kita berbicara mengenai menerima orang lain apa adanya sampai kita sendiri lupa bagaimana mempraktikkan apa yang kita omongkan.

Ternyata tidak mudah menerima orang lain apa adanya, apalagi keadaan orang lain itu jauh dari yang kita bayangkan. Apakah kita sanggup menerima orang yang dikelompokkan sebagai miskin, gelandangan, pengemis, ketika de facto mereka berada di hadapan kita? Ketika de facto mereka mengetuk hati kita, menatap mata kita dan meminta belas kasihan? Seorang ibu memiliki pengalaman amat unik yang ingin dia bagikan ke kita. Saya menerjemahkannya secara bebas untuk rekan-rekan pembaca.

Aku seorang ibu dari tiga orang anak. Panggil saja aku Lea. Selain sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keperluan sehari-hari suamiku Toni, putra tertuaku Kevin (14 tahun), Sander (12 tahun), dan putriku Charlote (3 tahun), aku diizinkan suamiku untuk melanjutkan kuliah S-1 yang nyaris selesai sebelum kami menikah. Syukur kepada Tuhan, baru beberapa bulan lalu aku menyelesaikan studi Strata Satu Sosiologi di sebuah perguruan tinggi terkenal di kota ini.

Bagiku pengalaman selama kuliah selalu menjadi momen pembelajaran yang sungguh luar biasa. Saya selalu mengenang tantangan yang diberikan dosen sosiologi, Bapak Patrick, yang pada masa saya kuliah Beliau sedang mengembangkan apa yang disebutnya sebagai “proyek senyum”. Apakah proyek ini sebenarnya? Suatu hari Pak Patrick menugaskan kami sekelas untuk menjalankan proyek ini dengan instruksi bahwa kami harus bertemu dengan paling kurang tiga orang, memberikan senyuman kepada mereka, dan kemudian mencatat apa reaksi mereka terhadap senyuman kami. Karena saya seorang yang ramah dan murah senyum, saya pikir tugas ini tidak akan sulit saya laksanakan.
Segera setelah kuliah usai, saya bergegas menuju ke rumah kami yang jaraknya tidak lebih dari 30 menit naik kendaraan umum dari depan kampus. Keesokan harinya, ketika saya, suami dan ketiga anak-anak kami sedang berjalan santai ke salah satu pusat perbelanjaan, saya pikir bagus juga kalau hari itu saya merealisasikan “proyek senyum” tersebut. Ketika saya menanyakan hal itu ke suamiku, dia mengiyakan, bahkan suami bersedia merekam apa reaksi orang terhadap senyumanku kepada mereka. Kami memutuskan untuk merealisasikan “proyek senyum” ini ketika kami akan makan siang di sebuah restoran cepat saji di ujung jalan itu.

Kami sekeluarga segera memasuki restoran asal negeri Paman Sam tersebut dan langsung antri. Ternyata sudah banyak orang yang mengantri menunggu giliran dilayani. Ketika kami mulai mendekati tempat pelayan restoran, tiba-tiba saya melihat orang-orang yang berbaris di belakangku, termasuk suamiku, berbalik badan dan bergerak menjauhi antrian. “Ada apa sih? Koq pada bubar semua?” Tiba-tiba saja ketika mata saya mengamati pergerakan orang-orang yang meninggalkan antrian, saya mencium bau badan yang sangat tajam, seperti bau orang yang lama tidak mandi. “Huum, bau apakah itu?” selidikku dalam hati. Betapa terkejutnya saya ketika melihat persis di belakangku dua anak jalanan dengan pakaian yang sangat kotor dan menjijikkan. Rupanya bau badan kedua bocah ini yang telah “mengusir” sebagian pengunjung restoran cepat saji itu. Ketika mataku menatap bocah yang lebih pendek dan yang paling dekat denganku, anak laki-laki itu tersenyum kepadaku. Aku melihat betapa matanya yang bening dan bersih itu seakan-akan bersinar penuh kedamaian. Mata itu begitu indah, jauh dari perasaan takut atau kegelisahan. Tampaknya hanya satu hal yang ingin dicari mata itu, agar dia diterima.

Eh, tiba-tiba perkataannya membuyarkan pikiranku, katanya, “Hari yang baik, Bu!” Sambil berkata begitu, tangannya terus memainkan beberapa keping koin yang dia genggam, sepertinya dia menghitung koin-koin tersebut. Anak muda yang masih remaja itu membawa serta seorang sahabatnya, sesama anak jalanan yang tampaknya menderita keterbelakangan mental. Praktis temannya yang sehat telah menjadi semacam penyelamat bagi hidupnya. Ke mana pun mereka selalu berdua.

Menyadari kehadiran kedua bocah jalanan itu, pelayan restoran segera menanyakan apa yang mereka inginkan. Bocah yang sehat itu berkata, “Dua gelas kopi sudah cukup bagi kami, Nona!” Hanya itu yang bisa mereka beli sekaligus mendapat kesempatan untuk menghangatkan diri dalam restoran tersebut, mengingat suhu udara sangat dingin di luar. Menyaksikan hal ini, tiba-tiba perasaan bingung dan rasa belaskasihan berkecamuk kuat dalam diriku. Hampir saja saya meraih dan memeluk kedua bocah itu ketika saya melihat reaksi ketidaksenangan orang-orang yang ada di restoran tersebut. Mereka semua sedang menatapku seakan-akan mengatakan kepada saya untuk tidak melakukan hal yang mereka anggap konyol, yakni memeluk atau sekadar membantu kedua anak jalanan ini.

Setelah menerima kopi dua gelas dan membayar dengan uang recehan yang mungkin mereka dapatkan dari mengamen atau meminta-minta, kedua bocah itu segera duduk di meja paling ujung dan mulai menikmati hangatnya kopi. Ketika giliran saya tiba untuk dilayani petugas restoran, saya meminta mereka untuk menambah dua porsi lagi di tempat terpisah selain lima porsi yang saya pesan untuk aku, suami, dan anak-anakku. Saya meminta suami membawa lima porsi untuk kami ke meja yang telah disediakan, sementara saya membawa dua porsi ekstra, berjalan perlahan ke meja di mana kedua bocah jalanan itu duduk. Setelah meletakkan dua porsi makan pagi di atas meja, saya meraih tangan bocah yang tadi menatapku, menyapanya dengan salah satu senyuman terindah dari bibirku. Kopi hangat yang nyaris selesai mereka minum ternyata tidak sanggup menghangatkan tangan kotor itu begitu dingin. Sekali lagi anak muda itu menatapku, tetapi kali ini dengan air mata yang mengalir perlahan membasahi pipinya. Dengan suara terbata-bata dia berkata kepadaku, “Mum, terima kasih!” Saya mendekatkan tubuhku ke arahnya, menggenggam erat kedua tangannya dan berkata, “Saya tidak melakukan ini untukmu…. Tuhan sedang hadir di restoran ini, dan melalui saya Dia ingin memberikan sebuah pengarapan kepada kamu.” Setelah berkata demikian, saya tidak mampu lagi menahan air mataku, dan mulai menangis. Saya pun berbalik ke meja di mana suami dan anak-anakku tidak sabaran menunggu.

Ketika saya mulai duduk di meja tempat suami dan anak-anakku berada, suamiku tersenyum kepadaku dan berkata, “Sekarang saya tahu mengapa Tuhan menghadiahkan kamu kepadaku, sayangku, supaya kamu memberi aku sebuah pengharapan.” Saya masih menghela nafas karena menahan tangis ketika suamiku mulai menggenggam tanganku. Tiba-tiba saja keheningan dan ketenangan menghampiri kami. Saat itulah aku mengerti dengan baik, bahwa Rahmat Tuhan sungguh berlimpah. Dia sudah memberikan Rahmat itu kepadaku dan keluargaku, dan kini melalui kamilah Rahmat dan pengharapan itu harus dibagikan. Itulah pengalaman cinta yang paling menawan yang boleh aku alami, yakni ketika aku melihat kehadiran-Nya dalam sorot mata dan senyum yang diberikan bocah pengemis itu. Tuhan telah menunjukkan aku jalan dan terang-Nya untuk semakin mengasihi keluarga dan orang lain sama seperti aku mengasihi diriku sendiri.

Bagaimana dengan “proyek senyum” yang diberikan dosen sosiologi kepadaku? Saya kembali keesokan harinya, dan menyerahkan kisah yang aku alami ini sebagai hasil “temuanku”. Ketika membaca kisah pengalamanku ini, dosen bertanya, “Apakah saya bisa membagikan kisah ini juga kepada teman-temanmu?” Saya mengangguk perlahan, dan dosen pun mulai membacakan apa yang saya kisahkan. Tentu teman-temanku sangat takjub dengan kisah yang saya tulis tersebut. Tetapi lebih dari itu, saya semakin mengerti bahwa sebagai manusia dan mitra Tuhan, kita semua harus berani membagikan pengalaman-pengalaman ketika kita disentuh dan merasakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dan bahwa pengalaman-pengalaman itu tidak saja menguatkan iman, tetapi juga menyembuhkan, dan memberi pengharapan akan hidup yang lebih baik. Melalui saya, Tuhan telah mengunjungi suamiku, anak-anakku, dan anak-anak jalanan yang saya jumpai di restoran cepat saji itu.

Selasa, 19 Juni 2012

Menaklukkan Dunia Maya dari Kursi Roda


Habibie Afsyah (24 Tahun)
Melalui ilmu marketing online, Habibie berharap, sesama penyandang disabilitas mampu hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.

Keterbatasan fisik tak membuat seseorang pasrah begitu saja. Habibie Afsyah, penyandang disabilitas yang sebagian besar anggota tubuhnya lumpuh tetap mampu berkarya. Ia termasuk salah satu 'ahli' Internet Marketer yang paling diminati di tanah air.

Sejak masih bayi, Habibie didiagnosa mengidap penyakit langka Muscular Dystrophy tipe Becker. Penyakit ini merusak saraf motorik di otak kecil yang membuat tubuhnya tak bisa berkembang sempurna. Sebagian besar anggota badannya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Praktis hanya kepala dan tangan kanan saja yang bisa digerakkan.

Habibie yang lahir dari pasangan H. Nasori Sugianto dan Hj. Endang Setyati pada 6 Januari 1988 memang dikaruniai kemampuan sebagai Internet marketer di atas rata- rata. Karena sakit yang dideritanya, ia tidak dapat melanjutkan pendidikan secara formal. Ia hanya bersekolah hingga tingkat SMA.

Sang Ibunda lantas mengarahkan Habibie dengan menyertakannya dalam seminar Internet Marketer pada 2007. Hanya dalam empat bulan, ilmu marketing online itu ia terapkan dan terbukti mampu memberinya penghasilan rata-rata $500 sampai $10.000 per bulan. "Awalnya lumayan sulit, setelah empat bulan, saya baru mendapatkan hasil dari amazon.com. Asal kita mau dan tetap berusaha, pasti bisa!," kenang Habibie.

Keberhasilan inilah yang mendorong Habibie untuk berbagi ilmu kepada penyandang disabilitas yang lain. Sejak tahun 2008, Habibie mulai rajin mendatangi panti-panti penyandang disabilitas atau komunitas penyandang disabilitas untuk berbagi ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya. Habibie juga membuka akun jejaring sosial, facebook dan twitter  agar mudah menjangkau teman-teman di dunia maya.

Nama Habibie semakin berkibar setelah dirinya muncul dalam berbagai acara Talkshow yang digelar diadakan berbagai stasiun televisi, salah satunya adalah sebagai bintang tamu dalam acara Talkshow Kick Andy yang disiarkan stasiun televisi MetroTV.

Sang Ibu juga aktif mendorong keinginan sang buah hati dengan mendirikan Yayasan Habibie Afsyah. Melalui yayasan ini, Habibie memberi pelatihan sekitar 50 an orang normal dan kurang lebih 60-an penyandang cacat dan 1 komunitas yang ia bangun untuk menjadikan tim yang mengembangkan project-project websitenya.

Saat ini juga banyak penyandang disabilitas dari luar kota, seperti Solo, Semarang, Yogyakarta dan daerah sekitar pulau Jawa singgah ke yayasan untuk mendapatkan pelatihan dan motivasi. Sekitar 20 orang berhasil dan tetap menjalin komunikasi dan berkonsultasi. Sebagian penghasilan yang didapatnya, digunakan untuk mengadakan pelatihan bagi penyandang cacat di luar kota. Sang Ibu juga membantu menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas disable lain. Salah satunya kegiatan yang saat ini sedang proses berjalan, dia membentuk Indonesia Disable Care Community yang berdomosili di Solo.

Hasil didikan Habibie tak mengecewakan. Salah satu diantaranya adalah
Zulfian yang sebelumnya berkonsultasi dan menjalani pelatihan Internet marketing. Kini, ia justru berhasil membangun usaha yang cukup besar, dengan sistem pemasaran online. Rata-rata pendapatan setiap bulan kini berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Zulfian kini pun menjadi mitra Habibie dalam memberikan pelatihan bagi para penyandang cacat.

Habibie berharap, penyandang cacat yang senasib dengannya memiliki semangat dalam berkarya dan berusaha. Yayasan yang kini menjadi 'rumah' bagi sesama penyandang disabilitas diharapkan tetap berjalan apabila Habibie tidak sehat ataupun tidak dapat beraktifitas kembali untuk mengembangkan yayasan. "Yayasan ini harus tetap berjalan, orang tua saya akan mengelolanya dan pelatihan akan diteruskan Ridwan, sahabat saya," ujar Habibie.

Kiprah mulia Habibie memang telah mendapatkan pujian dari berbagai kalangan. Meski demikian, tak satupun penghargaan diberikan untuk Habibie. Hanya mendapatkan sertifikat Terima Kasih sebagai pembicara yang menempel rapi di dinding ruang tamu rumahnya.

Dewi Lestari, artis dan penulis buku:
Habibie orang yang cerdas dan riang. Apa yang telah dilakukannya untuk berbagi dengan sesama penyandang disablitas maupun orang normal merupakan tindakan sangat-sangat terpuji dan layak untuk dicontoh. Satu hal, dia bukan orang yang mudah menyerah dan justru ingin mengajak mereka yang memiliki keterbatasan untuk bisa mandiri.

Selasa, 12 Juni 2012

Kisah Cinta Seorang Anak..


Untuk bahan Renungan Semoga Bermanfaat
(ditulis oleh Cristine Wili)

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”

Kamis, 07 Juni 2012

Suaramu Membangunkanku


Sudah 10 bulan pria itu terbaring di tempat tidur rumah sakit. Dalam kondisi tak sadar dan tak bisa merespon apapun. Koma. Dokter bahkan mengatakan, kemungkinan terburuk, ia tak akan bangkit selamanya.

Mathew Taylor, nama pria itu, terbaring tak berdaya akibat kecelakaan motor di Bali. Di Pulau Dewata itu ia mengajar Bahasa Inggris. Kepalanya mengalami gegar otak parah.

Suatu hari kejaiban terjadi. Sebuah panggilan telepon mengubah segalanya. Dari rumahnya di Bali, kekasih Taylor, Handayani Nurul menelepon. Orang tua yang menerima panggilan itu lantas mengarahkan telepon ke telinga Taylor.

Saat mendengar suara kekasihnya itu, air mata Taylor mengalir ke pipinya. Itu adalah kali pertamanya pria 31 tahun itu menunjukkan tanda-tanda pulih.

"Air matanya mengalir saat kami mendekatkan telepon ke telinganya. Kekasihnya menanyakan sesuatu, ia seakan menjawab "ya" dengan bahasa tubuhnya," kata ayah tiri Taylor, Simon Moore, seperti dimuat Daily Mail.

Taylor dari Overseal, Derbyshire, Inggris bertemu Nurul (27) setelah ia pindah ke Indonesia tahun 2009 -- 18 bulan sebelum kecelakaan -- untuk mengajar Bahasa Inggris.

Pasangan itu berniat menikah, mereka telah bertunangan, namun rencana itu harus tertunda saat Taylor mengalami kecelakaan kala mengemudikan motor 9 Juli tahun lalu. Selain tengkorak yang retak, rongga matanya juga harus direkonstruksi menggunakan tulang dari pahanya. Saat operasi itulah, ia koma, dan dalam kondisi vegetatif.

Pada bulan Oktober, Taylor dipulangkan ke Inggris. Kedua orang tuanya  terus berjaga di samping tempat tidur di Royal Derby Hospital.

Nurul sempat menemani Taylor selama tiga bulan, namun mahasiswi Sastra Belanda di Universitas Indonesia itu terpaksa kembali ke Bali gara-gara visanya habis.

Sejak telepon pertama tiga minggu lalu, kini Taylor perlahan-lahan mulai pulih. Lebih banyak gerakan yang dilakukannya. "Kesadarannya masih rendah, tapi ia bisa menggerakkan tangannya, kiri dan kanan saat telepon berdering. Kami sangat lega ia mulai pulih," kata Moore. Ibu Taylor, Heather makin rajin menelepon Nurul untuk menstimulasi putranya.

Moore menambahkan, mereka berjaga siang dan malam di rumah sakit, dengan dada berdebar bersiap menghadapi yang terburuk. Perkembangan positif Taylor saat ini memuat mereka sangat senang.

Seentara,  Luke Griggs, juru bicara yayasan cedera otak Headway mengatakan, Taylor kini punya harapan bisa sembuh total.

Dia menjelaskan, terapi penganggulangan koma (coma arousal therapy) seringkali digunakan untuk menstimulasi pasien yang kesadarannya berkurang, koma atau kondisi vegetatif.

"Periode stimulasi dirancang dengan hati-hati, dalam bentuk suara, sentuhan, bau, dan rasa. Yang digabungkan dengan periode istirahat pasien agar tidak membebani indranya.

"Meskipun kasus setiap individu berbeda, pada umumnya, semakin lama ia tak sadar, makin kecil peluangnya untuk sembuh total."

Namun, keajaiban bisa saja terjadi. "Kami mendengar beberapa contoh, seseorang bisa bangkit dari koma, sembuh total, dan melanjutkan hidup dengan bahagia," kata dia.

Fakta itu menunjukkan bahwa program terapi mungkin efektif. Juga bukti kekuatan cinta bisa menciptakan keajaiban. (eh) Vivanews